Rabu, 07 Desember 2016

BIOGRAFI AUGUSTINUS



BIOGRAFI AUGUSTINUS

MAKALAH

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Historiografi Umum Pada Prodi Sejarah dan Kebudayaan Islam

Dosen pembimbing :       1. Drs. Fajriudin, M.Ag
                                          2.  Wahyu Iryana, M.Ag






Oleh:
Fahmi Muhammad Lutfi        NIM 1155010037
     


JURUSAN SEJARAH DAN PERADABAN ISLAM
FAKULTAS ADAB DAB HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2016






KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah Tuhan yang Maha Esa dan dengan rahmat serta karunia-Nya, Penyusun dapat menyelesaikan makalah tepata waktu. Shalawat serta salam semoga terlimpahkan kepada Rasulloh Muhammad SAW, besertakeluarganya, sahabat-sahabatnya dan umatnya.
     Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas pada mata kuliah Historiografi. Makalah ini masih jauh dari sempurna, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini. Harapan penyusun semoga makalah ini bermanfaat  bagi semua pihak khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca.
Akhir kata semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan bahasa yang melimpah atas segala sesuatu yang telah dipekerjakan dalam perbuatan makalah ini dan dapat dijadikan acuan dalam proses pembelajaran.

                                               
Bandung, 1 Desember 2016


Penulis





DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................. I
DAFTAR ISI.............................................................................. II
BAB I PENDAHULUAN............................................................ 1
A.  Latar Belakang................................................................... 1
B.  Rumusan Masalah.............................................................. 2
C.  Tujuan Masalah.................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN............................................................ 3
Biografi Augustinus........................................................... 3
BAB III PENUTUP..................................................................... 6
Simpulan............................................................................. 6
DAFTAR PUSTAKA.................................................................. 7




BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah
Agustinus dari Hippo (dalam bahasa Latin: Aurelius Augustinus Hipponensis, lahir 13 November 354 – meninggal 28 Agustus 430 pada umur 75 tahun), atau biasa dikenal dengan Santo Agustinus, adalah seorang filsuf dan teolog Kekristenan awal yang mana tulisannya mempengaruhi perkembangan Kekristenan Barat dan filosofi Barat. Ia adalah Uskup Hippo Regius (sekarang Annaba, Aljazair), yang terletak di Numidia, Provinsi (Romawi) Afrika. Ia dipandang sebagai salah seorang Bapa Gereja terpenting dalam Kekristenan Barat karena tulisan-tulisannya di Era Patristik; beberapa karyanya yang terkenal adalah Kota Tuhan dan Pengakuan-pengakuan.
Menurut St Hieronimus, yang mana sejaman dengan Agustinus, ia telah memperbaharui "Iman kuno" (conditor antiquae rursum fidei). Di awal hidupnya, Agustinus banyak dipengaruhi oleh Manikheisme dan sesudahnya oleh Neoplatonisme. Setelah dibaptis dan menjadi Kristen pada tahun 387, Agustinus mengembangkan pendekatannya sendiri dalam filosofi dan teologi dengan mengakomodir berbagai metode dan sudut pandang. Ketika Kekaisaran Romawi Barat mulai pecah, Agustinus mengembangkan konsep Gereja Katolik sebagai suatu Kota rohani Allah (Yerusalem Baru), berbeda dengan Kota Duniawi yang materiil. Pemikirannya sangat mempengaruhi pandangan dunia pada abad pertengahan. Gereja yang berpegang pada konsep Trinitas, sebagaimana didefinisikan dalam Konsili Nicea I dan Konsili Konstantinopel I, dikenal erat sebagai Kota Allah-nya Agustinus.
Dalam Gereja Katolik dan Komuni Anglikan, ia dipandang sebagai seorang santo, seorang Doktor Gereja yang unggul, dan pelindung para biarawan Agustinian. Banyak kalangan Protestan, terutama Calvinis, menganggapnya sebagai salah seorang bapa teologis dari Reformasi Protestan karena ajarannya tentang anugerah ilahi dan keselamatan.
Dalam Gereja Timur, banyak ajarannya yang tidak diterima; kontrovesi doktrinal yang terpenting sehubungan dengannya adalah filioque. Doktrin lain yang mungkin tidak diterima mencakup pandangannya mengenai dosa asal, doktrin menenai anugerah, dan predestinasi. Meski dianggap keliru dalam beberapa hal, Agustinus tetap dipandang sebagai seorang suci. Gereja Ortodoks memberinya gelar "Yang Terberkati" (Beato); namun hal ini bukan berarti ia tidak dipandang sebagai seorang Santo oleh kalangan Ortodoks, sebab hari peringatannya tercatat dalam kalender liturgi mereka.

B.  Rumusan Masalah
Bagaimana Biografi Augustinus?

C.  Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui Biografi Augustinus





BAB II
PEMBAHASAN

Biografi Augustinus
Augustinus lahir di Tagaste, Aljazair, Afrika Utara, 13 November 354 M sebagai putra seorang ibu yang taat beragma yaitu Monika.[1]Ayahnya bernama Patricius, seorang tuan tanah kecil dan anggota dewan kota yang kurang taat beragama hingga menjelang akhir hayatnya. Agustinus dididik dan dibesarkan secara kristen kendatipun karena adat istiadat yang berlaku pada masa itu, ia tidak dibaptiskan ketika masih bayi.
Augustinus memperoleh pendidikan dasar di Tastage dan secara khusus mempelajari bahasa latin dan ilmu hitung. Ketika berusia sekitar sebelas tahun, Augustinus dikirim ayahnya ke Maduna untuk menyelesaikan pendidikan dasarnya dan berhasil memperoleh pengetahuan yang cukup mengagumkan dalam tata bahasa dan sastra latin.
Pada tahun 370 M, Augustinus dikirim ke Cartago untuk melanjutkan studinya dalam bidang ilmu hukum sesuai dengan keinginan ayahnya. Akan tetapi ia lebih tertarik mempelajari retorika, karena pada masa itu kefasihan lidah akan mempermudah seseorang untuk meraih jabatan yang tinggi. Gaya hidup Augustinus hedonistik[2] untuk sementara waktu. Di carthago ia menjalin hubungan dengan seorang perempuan muda selama lebih dari sepuluh tahun. Dari hubungan suami istri tanpa nikah itu Augustinus memperoleh seorang anak bernama Adeodatus.[3]
Setelah membaca Hortensius Karya Cicero yang berisi pujian dan pujian terhadap filsafat, Augustinus (373 M) mulai tertarik pada filsafat, Khususnya ajaran Manicheisme[4] yang setia. Setelah kurang lebih 4 tahun menjadi pengikut Manicheisme, Augustinus mulai merasakan bahwa sebenarnya karakter filsafat Manicheisme bersifat destruktif. menurut pandangannya ajaran ini dapat merusak dan memusnahkan segala sesuatu tetapi tidak sanggup membangun apapun. Moralitas para pengikut Manicheisme ternyata juga lebih buruk dari dugaannya. Oleh sebab itu, ia mulai meninggalkan ajaran Manicheisme. Dalam waktu beberapa tahun, ia menjadi orang yang skeptis.
Pada tahun 383 M, Augustinus meninggalkan Carthago menuju Roma, kemudian pindah ke Milano (tempat tinggal Ambrosius) dan diangkat menjadi guru besar ilmu retorika. Disini , ia berkenalan dengan ajaran filsafat Plato dan Neo-Plantonis sebelum masuk agama Kristen. Dalam hidupnya, ia banyak dipengaruhi oleh Ambrosius, seorang ahli retorika sebagaimana Augustinus sendiri, namun lebih tua dan lebih berpengalaman.
Pada tahun 386 M, ia “bertaubat” dan memutuskan menjadi Kristen. Peristiwa ini terjadi setelah ia membaca riwayat hidup St. Antonius dari padang Pasir yang sangat menarik perhatiannya. Ia meninggaalkn kariernya dalam retorika, melepaskan jabatannya sebagai seorang profesor di Milano, dan keinginannya untuk menikah, dan mengabdikan diri sepenuhnya untuk melayani Allah dan praktik imamat.
Sebuah pengalaman penting yang memengaruhi pertaubatannya adalah suara dari seorang gadis kecil yang didengarnya menyampaikan pesan kepadanya melalui sebuah nyanyian kecil untuk mengambil dan membaca Alkitab. Pada saat itu, ia membuka Alkitab secara asal dan menemukan sebuah ayat dari  Paulus. Ia menceritakan perjalanan rohani ini dalam bukunya yang terkenal dengan pengakuan –pengakuan Augustinus. Buku itu kemudian menjadi buku klasik dalam teologi Kristen maupun sastra dunia.
Uskup Ambrosius membaptiskan Augustinus pada hari paskah pada 387 M, dan tidak lama sesudah itu pada 388 M ia kembali ke Afrika. Dalam perjalanan ke Afrika itulah Monika (Ibu Augustinus) meninggal. Tidak lama kemudian anak laki-lakinya menyusul kematian sang nenek sehingga ia praktis hidup sendiri di dunia tanpa keluarga.
Di Arika utara ia membangun, ia membangun sebuah biara di Tagaste untuk dirinya sendiri dan sekelompok temannya. Pada tahun 391 M, ia ditahbiskan menjadi seorang imam Gereja di Hippo Regius, (kini Annaba, di Aljazair).[5] Ia menjadi seorang pengkhotbah terkenal (lebih dari 350 Khotbahnya yang terlestarikan diyakini otentik) dan dicatat karena melawan ajaran Manicheisme yang pernah dianutnya.
Ia merupakan seorang yag berdedikasi dan memiliki loyalitas tinggi sehingga dalam kepemimpinannya sebagai uskup kegiatan gereja berjalan baik dan bertambah maju. Ia tidak hanya memimpin keuskupan dan berkhotbah saja tetapi juga mengajar dan berdiskusi dengan penganut-penganut bid’ah (Manicheisme,Donatisme, dan Pelagianisme). Oleh karena hasil-hasil karya dan jasa keuskupannya, ia dijuluki sebagai pujangga dan Bapak Gereja latin yang terbesar.[6]



BAB III
PENUTUP

Simpulan
Santo Aurelius Augustinus adalah sejarawan yang mewakili karakter zamannya yakni masa Pertengahan. Periode pertengahan identik dengan masa pengaruh agama Kristen yang theosentris, dominasi gereja, dan feodalistik. Kondisi ini berpengaruh terhadap karya tulis yang ia hasilkan termasuk penulisan sejarah. Penulisan sejarahnya bertolak dari gereja dan pendekatan yang ia gunakan adalah teologis.
Para penulis sejarah masa itu banyak di antaranya adalah para aktifis gereja. Salah satu karya Augustinus yang masyhur adalah The Civitate Dei atau The City of God. Buku ini ditulis dengan maksud keagamaan yakni melakukan pembelaan atas tuduhan kaum Pagan kepada masyarakat Romawi yang telah memeluk agama Kristen sebagai penyebab kehancuran kekaisaran Romawi. Karyanya menunjukkan bahwa penulisan itu bertujuan untuk melakukan pembelaan terhadap agama. Kendati demikian, karyanya juga berisi kesejarahan yang agamis, mendalam, dan sistematis. Pada karya ini, Augustinus menunjukkan kemampuannya dalam mengintegrasikan sejarah dengan filsafat sehingga menjadi suatu penjelasan sejarah yang kritis dan sistematis.
 Dalam hal ini, ia berusaha merelevankan kekristenan dengan kehidupan intelektual pada masanya. Pandangan ini tidak lepas dari pengetahuan (filsafat, retorika, dan sejarah) yang dimilikinya dan pengalaman hidup dilaluinya. Terakhir, kajian ini juga potensial memberikan kontribusi berharga bagi pengembangan, penjelasan, dan penulisan sejarah Islam.    


DAFTAR PUSTAKA
 Iryana, wahyu. Historiografi Barat. Bandung: Humaniora, 2014.
Bertens, Kees. Ringkasan Sejarah Filsafat. Yogyakarta: Kanisius, 1981.
Gay, Peter & Gerald J. Cavanaugh. Historians at Work, Vol. 1. New York: United State of America, 1972.
Heuken, Adolf, SJ. Ensiklopedi Gereja Jilid I. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka, 1991.
Kuntowijoyo. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 1995.
Rapar, J.H. Filsafat Politik: Plato Aristoteles Augustinus Machiavelli. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2001.
Suhelmi, Ahmad. Pemikiran Politik Barat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2001.
http:id.wikipedia.org/wikiAugustinus_dari_Hippo diakses Senin 1 Desember 2016.
http://www.sabda.org/sejarah/artikel/kota_allah_sebuah_interpretasi _teologis.htm diakses 1 Desember 2016.







[1] Heukeun, Adoif, SJ, Eusiklopedi Gereja Jilid 1. (Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka, 1991), hlm.61
[2] Hedonistik yang dimaksud adalah nilai pokok dalam hidup adalah merasakan kesenangan-kesenangan yang berupa kenikmatan-kenikmatan sampai kepada kepuasan yang murni dan terus menerus dalam arti apapun tujuannya dan betapapun susahnya.
[3] Ahmad Suhelmi, Pemikiran Politik Barat (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2001). Hlm.71
[4] Aliran Manicheisme yaitu bid’aah yang menolak Allah dan mengtamakan rasionalimse
[5]  Peter Gay dan Gerald J. Cavanaugh, Historians At work, Vol. 1 (New York United Sate of America, 1972), hlm.269.
[6] Heukeun, Adolf. S,J, Op.Cit, hlm.61